PENGAKUAN NEGARA TERHADAP AGAMA LELUHUR/LOKAL

Agama leluhur/lokal memiliki karakteristik khusus yang didasarkan pada fakta empiris bahwa jauh sebelum agama-agama yang disebutkan di atas serta agama dari luar Indonesia masuk lewat penyebaran para misionaris, leluhur atau masyarakat kuno yang telah mewariskan ajaran tuntutan keselamatan hidup dan spiritualitas yang dapat didefinisikan sebagai agama. Paling tidak berdasarkan ketentuan normatif dalam konteks hak asasi manusia, masyarakat yang mewarisi nilai-nilai adat leluhurnya itulah yang disebut sebagai masyarakat hukum adat, karena dalam tata kehidupan sosialnya baik dalam tata upacara kelahiran, perkawinan dan kematian masih menggunakan tuntunan adat dan kebijaksanaan para leluhurnya. Agama-agama luluhur/lokal yang masih hidup di Indonesia antara lain Parmalim di Sumatra Utara, Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di Jawa Barat, Jawa Kawitan di Jawa Tengah, Tonaas Walian di Sulawesi Utara, Tolotang di Sulawesi Selatan, Marapu dan Boti di Nusa Tenggara, Naurus di Pulau Seram Maluku dan lainnya sebagainya. Konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 mengkategorikan agama-agama tersebut di atas sebagai “Kepercayaan Terhadap Tuhan YME”.

Apa yang belum terlihat oleh kita bukan berarti tidak ada. Hanya kita yang belum mengetahuinya. …. benar, binatang melata dari bumi yang berkata atau berbicara.. Jelas disitu bahwa akan ada makhluk lain yang gres yang mempunyai kemampuan berbicara atau berkomunikasi dengan manusia. Tetapi tidak perlu dipermasalahkan bagaimana bentuknya atau rupanya. Yang terang tidak menyerupai yang di film-film alien itu. Tidakkah kau perhatikan, bahwa sebenarnya Allah telah membuat langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, pasti Dia membinasakan kau dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dalam ayat ini Allah SWT. Dialah yang membuat semua langit dan bumi dengan hak. Maksudnya Allah membuat semuanya itu bukanlah dengan percuma melainkan dengan penuh hikmah. Oleh alasannya itu insan yang telah dijadikan-Nya sebagai khalifah-Nya di bumi ini hendaklah memanfaatkan semua itu dengan cara yang baik dan untuk tujuan yang baik pula. Sesuai dengan peraturan dan ketentuan-Nya. Akan tetapi jikalau insan itu menyimpang dari peraturan dan ketentuan Allah, maka Dia tidak membiarkan berbuat kelaliman itu. Maka pada simpulan ayat ini Allah SWT.

Tapi bagi yang memang tahu gimana karakter Dilan, pasti langsung kontra, sih,” celetuk seorang netizen. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, Dilan 1990 nyatanya mampu mendulang sukses di pasaran. Filmnya tercatat meraih lebih dari 6 juta penonton dan banyak menerima penghargaan, salah satunya adalah dari Indonesian Choice Awards 2018 untuk kategori Movie of the Year. Usai Dilan, giliran pemilihan Iqbaal jadi pemeran Minke di Bumi Manusia yang diprotes netizen. Publik yang suka dengan novel Bumi Manusia merasa bahwa bassist band Svmmerdose itu terlalu menye-menye untuk memerankan Minke. “Rasanya putus asa gitu tahu Iqbal The Icon of Menye-menye jadi Minke di film Bumi Manusia. Terkutuklah kalian semua yang bertanggung jawab untuk ini,” begitu kata seorang netizen yang melayangkan protesnya di Twitter. Mungkinkah hal ini dikarenakan karakter Dilan masih melekat dengan Iqbaal? Apa pun itu, sutradara Hanung Bramantyo mempunyai alasan tersendiri dalam menentukan aktor utama untuk film karyanya. Salah satu alasannya ialah biodata Iqbaal Ramadhan yang dianggap paket lengkap dengan daya tarik kuat bagi generasi milenial.

Rasul-Nya, jikalau Allah menghendaki maka Allah akan membinasakan beserta umatnya dan akan mengganti mereka dengan makhluk yang baru. Penegasan ini ialah untuk mengingatkan Rasul dan umatnya yang taat dan beriman kepada Allah, betapa besarnya dosa orang-orang kafir itu, lantaran dengan kekafiran tersebut mereka tidak mengakui kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara makhluk-Nya. Apabila insan memikirkan kekuasaan Allah dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya, pasti mereka akan hingga kepada keyakinan bahwa hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah dan dipuji serta ditakuti azab dan siksa-Nya. Sedangkan, standar universal makhluk di alam semesta ini belum sanggup ditentukan, lantaran tidak ada standar tertentu yang sanggup dibentuk insan untuk memilih selogis apa makhluk yang harus ada atau layak mendiami alam semesta ini. Begitulah, muslimin, lantaran ilmu saya masih terbatas, saya memerlukan sharing ilmu dan pikiran disini wacana itu. Diskusi juga sanggup disertakan klarifikasi darimana pun asal itu ilmiah. Al-Qur’an yang disusun berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad SAW (taufiqi) tidak sesuai dengan urutan turunnya wahyu, ternyata mempunyai struktur yang spesifik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.